Polri Sebut Gas Air Mata Tidak Berbahaya, Dokter Paru Sebut Bisa Sebabkan Kematian

idtheftquiz.org/ – Polri mengklaim bahwa gas air mata yang ditembakkan dalam insiden kerusuhan di Stadion Kanjuruhan tidak membahayakan tubuh dan mematikan.

Kadiv Humas Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo bahkan mengatakan gas air mata dalam tingkatan tertinggi pun tidak ada yang mematikan.

Klaim tersebut menurut Dedi berdasar pada pendapat ahli dokter yang menangani korban-korban tragedi di Stadion Kanjuruhan .

“Dari penjelasan para ahli, dokter spesialis yang menangani para korban, baik korban yang meninggal dunia maupun korban yang luka, dari dokter spesialis penyakit dalam, penyakit paru, penyakit THT, dan juga spesialis penyakit mata, tidak satu pun yang menyebutkan bahwa penyebab kematian adalah gas air mata ,” ujarnya.

Namun, klaim tersebut mendapat bantahan dari seorang dokter paru di RSUP Persahabatan Feni Fitriani Taufik. Menurutnya, gas air mata bisa menjadi penyebab kematian tergantung banyaknya jumlah paparan dan kondisi korban.

“Kalau disertai pajanan (exposure) yang besar, ditambah kondisi lain sehingga kerusakan di paru lebih lanjut, itu yang bisa berakibat fatal. Walaupun sebenarnya tidak banyak tapi dengan multifikasi efek itu mungkin terjadi kematian,” katanya dalam talkshow daring via Instagram RSUP Persahabatan, Rabu.

Pasalnya, kata dokter Feni, gas air mata bukan semata-mata gas namun ada campuran bahan kimia padan dan kimia cair yang bersifat iritatif.

Saat disemprotkan, bahan kimia yang terkandung bisa mengenai kulit, mata, dan saluran pernapasan yang menyebabkan rasa perih, kemerahan, mata dan hidung berair, dan pilek.

Salah satu hal fatal yang membuat banyaknya jatuh korban jiwa dalam tragedi tersebut ialah durasi paparan gas air mata yang terlalu lama terhirup oleh suporter.

“Kalau kita bandingkan dengan kerusuhan yang dilemparkan di alarm terbuka, itu kan orang menjauh sehingga kontaknya bisa tidak berlama-lama,” ucapnya, dikutip Pikiran-Rakyat.com dari Antara.

Paparan gas air mata yang berlangsung lama akan menyebabkan partikel kimia semakin banyak masuk ke dalam tubuh yang bisa menimbulkan respons radang yang berat di saluran nafas.

Setelahnya, akan terjadi pembengkakan dan penyempitan yang menyebabkan seseorang sulit menghirup dan mengeluarkan napas. Jika gangguan sampai berlanjut hingga ke paru-paru maka akan mengganggu proses penangkapan oksigen.

Selain itu, menurut dia, kondisi fisik korban paparan gas air mata juga mempengaruhi tingkat bahaya. Seperti kelompok-kelompok rentan gas air mata , yaitu anak-anak yang saluran nafas dan kondisi fisiknya lebih lemah ketimbang orang dewasa.

Lalu ada pula orang komorbid yang memiliki kondisi gangguan saluran napas seperi asma dan orang yang merokok.

“Kejadian kemarin ( Kanjuruhan ) selain masanya tidak bisa menjauh karena tidak bisa keluar ruangan, ada kepanikan, desak-desakan sehingga gangguan saluran napas jadi bertambah-tambah. Sehingga efeknya jadi lebih berat dirasakan dan kita lihat korbannya jadi besar,” tuturnya.***

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website pikiran-rakyat.com. Situs https://idtheftquiz.org/ adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://idtheftquiz.org/ tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”

Leave a Comment