Polisi Sebut Gas Air Mata Kadaluarsa ‘Tidak Berbahaya’, Benarkah?

idtheftquiz.org/ – Pihak Polisi Republik Indonesia (Polri) mengeluarkan pernyataan terbaru mengenai penggunaan gas air mata di Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 131 awal Oktober 2022.

Menurut Polri, mereka mengakui bahwa sejumlah gas air mata yang digunakan pada para penonton itu ternyata sudah kedaluwarsa.

Beberapa dari gas air mata yang digunakan ternyata sudah habis masa berlakunya pada tahun 2021.

Tetapi, Polri malah menyebutkan gas air mata kedaluwarsa memiliki efek yang berkurang sehingga menjadi tak berbahaya, benarkah demikian?

Ternyata, apa yang dikatakan oleh Polri ini bertolak belakang. Ada fakta yang menjelaskan gas air mata kedaluwarsa bisa berbahaya, salah satu efeknya bisa menyebabkan kebutaan permanen.

Dikutip Pikiran-Rakyat.com dari situs Kashmir Observer pada Selasa, 11 Oktober 2022, Asosiasi Dokter Kashmir (DAK) di tahun 2016 pernah mengeluarkan pernyataan soal gas air mata kedaluwarsa.

Pada saat itu, polisi di Umarabad menggunakan gas air mata pada aksi demonstrasi warga yang menentang pengemudi sembrono yang mengakibatkan 7 warga sipil meninggal.

Polisi diketahui membubarkan masa yang membludak, dengan penggunaan gas air mata kedaluwarsa, sama seperti yang terjadi di Tragedi Kanjuruhan .

DAK menjelaskan bukannya efek berkurang, gas air mata kedaluwarsa malah bisa berubah jadi racun dan memiliki efek kesehatan yang berbahaya.

Gas air mata kedaluwarsa bisa menyebabkan beberapa masalah kesehatan seperti kebutaan permanen, luka bakar kimia, keguguran, eksaserbasi fatal asma, kejang.

Bisa jadi bahkan kematian, jika tabung yang dilemparkan langsung mengenai orangnya. Selain itu, data lainnya yang perlu dicek adalah cangkang gas air mata yang kedaluwarsa.

Pasalnya, gas air mata kedaluwarsa menurut The Resources Conservation and Recovery Act yang dikeluarkan tahun 1976 termasuk limbah berbahaya.

Tak tanggung-tanggung, pembuangan limbah ini (termasuk gas air mata kedaluwarsa) harus dilakukan dengan proses peraturan pengelolaan limbah.

DAK sempat mengecam polisi yang menggunakan gas air mata kedaluwarsa ini untuk membubarkan kerumunan.

“Penggunaan tabung gas air mata kedaluwarsa tidak manusiawi, dan merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan,” ujar Presiden DAK kala itu, Dr Nisar ul Hassan.

Mata Korban yang Kunjung Belum Sembuh

Pernyataan yang dikeluarkan DAK ini bisa saja memang sesuai pada kenyataannya, dan polisi hanya mengeluarkan statement yang salah.

Pasalnya, salah seorang korban dari Tragedi Kanjuruhan , masih merasakan efek dari penggunaan gas air mata kedaluwarsa ini.

Akun Twitter @natalia**ijanto sempat membagikan kondisi mata dari para korban Tragedi Kanjuruhan , satu minggu setelah tragedi memilukan itu terjadi.

Ternyata, terlihat tiga mata korban dari kejadian itu masih memerah darah, satu minggu setelah kejadian terjadi.

“Sudah seminggu, kondisi mata korban gas air mata di Kanjuruhan masih merah seperti ini,” tutur akun itu.

“Kabarnya pembuluh darah pecah terkena gas air mata ,” ucapnya.***

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website pikiran-rakyat.com. Situs https://idtheftquiz.org/ adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://idtheftquiz.org/ tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”

Leave a Comment